Breaking News
Loading...

Religi

Otomotif

Tips

Tech News

Random Post

Recent Post

Tampilkan postingan dengan label Rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah. Tampilkan semua postingan
Sabtu
Mengapa Balita Gemar Berteriak

Mengapa Balita Gemar Berteriak

Dok. NailadaM
Jeritan balita menyaingi lengkingan penyanyi rock. Meski Anda berada di dekatnya, tetap saja balita memilih berteriak saat memanggil mamanya. Tak kenal watu, balita kerap berteriak-teriak. Anda jadi tidak sabar menghadapinya.

Menarik perhatian. Balita usia 2 tahun mulai lancar berbicara. Dia merasa perlu menunjukkan kemampuannya. Apalagi kalau bukan dengan berteriak. Dia juga sering berteriak untuk menarik perhatian orang lain saat ingin menyampaikan perasaan dan pikirannya, ini terjadi karena dia belum tahu cara menarik perhatian orang lain dengan benar, yakni dengan berbicara baik-baik.
Balita menggunakan teriakan itu sebagai sarana bereksperimen sejauh mana suaranya dapat didengar orang lain. Dia juga belajar mengontrol volume suara dan tinggi rendah nada. Dan tentunya kegiatan yang menyenangkan dan menghibur bagi dirinya. Namun Anda tak perlu khawatir, sebenarnya hal tersebut masih wajar. Seiring bertambahnya usia, kemampuan komunikasi anak meningkat dan kebiasannya berteriak-teriak pun akan berkurang.

Jangan balas. Satu hal yang harus Anda perhatikan, jangan pernah membalas teriakan balita dengan teriakan juga. Apalagi membentak menyuruhnya diam. Dia justru akan berteriak lebih keras lagi. Anda harus memberi pengertian pada balita 2 tahun untuk berhenti berteriak-teriak. Ucapkan dengan kalimat yang jelas dan dengan nada yang lembut. Misalnya, “ Tidak perlu teriak, Bunda juga sudah dengar, kok. Nanti tenggorokannya sakit.”
Anda jangan pernah menanggapi keinginan anak bila dia memintanya sambil berteriak. Selalu minta balita untuk berkata secara santun, barulah Anda penuhi keinginananya. Tak lupa beri pujian kalau balita sudah tidak berteriak-teriak lagi. 

Hindari Memberi Label Balita “CENGENG”

Hindari Memberi Label Balita “CENGENG”

“Iya, ini anak cengeng banget!” kalimat ini justru membuat anak memakai tangisnya sebagai senjata untuk mendapatkan kemauannya. Di dalam benaknya akan tertancap label bahwa dia anak cengeng. Maka ketika dia mengalami kesulitan, dia hanya tahu satu cara mengatasinya, yaitu menangis. 

Balita juga tidak pernah belajar mengutarakan keinginannya, pendapat atau menyelesaikan masalahnya dengan benar. Lalu apa yang bisa orangtua lakukan? 
Perhatikan mana tangisan yang benar, dan mana yang pura-pura. Biasanya tangisan palsu tanpa air mata, berkepanjangan atau berlebihan. Misalnya dengan berteriak atau merusak.
Hadapi anak menangis dengan tenang, tidak berlebihan, tanyakan apa yang terjadi dan apa yang dia inginkan. Bila anak tantrum, diamkan sejenak. Biarkan dia meluapkan emosinya sebelum Anda ajak bicara. Yang terpenting, jangan pernah menyebut balita sebagai “Anak Cengeng.”
sumber:a y a h b u n d a . c o . i d
Agar Anak Tak Berkomentar Seenaknya

Agar Anak Tak Berkomentar Seenaknya

Komentar anak Anda sering memerahkan telinga. Bijak menanggapi adalah tindakan yang tepat agar anak mau mengubah kebiasaannya.

"Ibu! Ibu! Anak itu putih sekali. Rambutnya bisa kuning begitu. Bule ya?" teriak Eri saat makan di sebuah restoran, sambil menunjuk seorang anak berkulit albino. Dika salah tingkah dan berbisik, "Ssssttt, jangan suka ngomentari orang begitu. "Eri, yang belum juga ngeh bertanya, "Iya, tapi kenapp." Belum selesai ucapannya, Dika membungkam mulut anaknya, "Ssssttt!"

Anak-anak kerap kali berkomentar di mana saja dan kapan saja, tanpa memikirkan dampaknya bagi orang yang dikomentari. Anak-anak usia ini tak paham bahwa komentarnya bisa saja tidak dapat diterima orang lain. Mereka tentu tak bisa disalahkan, karena mereka belum matang secara sosial. Mereka juga belum mampu berpikir sebelum bicara. Namun, di sisi lain, anak sebenarnya mulai peka terhadap sesuatu yang tidak lazim.

Tidak bermaksud menghina. "Aduh Bunda, orang itu pendek sekali!" Atau, "Orang itu kenapa hidungnya tidak ada?" Orang yang sangat pendek, orang yang tidak punya hidung, merupakan sesuatu yang tidak lazim. Anak mulai sadar ada sesuatu yang "tak beres". Kesadaran ini tentu bukan sesuatu yang jelek. Masalahnya adalah, bagaimana melatih anak agar tidak berkomentar pada yang tak lazim itu, meski ia tidak berniat menyakiti hati orang lain.

Sebelum melatih anak peka terhadap orang lain, sebelummya Anda perlu introspeksi. Bisa saja anak belajar dari Anda. Namun bila anak nyata-nyata tidak meniru dari Anda, pengaruh lingkungan sekitar atau televisi mungkin biang keladinya.

Namun, apa pun sumber cara anak berkomentar, Anda perlu mengubah perilaku anak agar sesuai tuntutan lingkungannya. Bila cara anak berkomentar terhadap kelainan orang lain tidak pada tempatnya, Anda dapat melatihnya tanpa membuat anak merasa dipermalukan. Bila anak berkomentar:
Jawab komentar anak dengan bijak; " Ada banyak macam manusia. Ukurannya juga macam-macam. Ada yang tinggi sekali, ada yang pendek sekali. Tuhan menciptakan manusia bermacam-macam. Warna kulitmu apa? Di kelasmu ada enggak anak yang paling tinggi?" Saat Anda mengatakan ini, arahkan pandangan Anda pada wajah anak. Jangan biarkan ia terlalu lama memandangi orang yang dikomentari.
Jangan membuat anak merasa bersalah karena apa yang dikatakannya itu benar.
Setelah Anda hanya berdua dengan anak, misalnya di dalam mobil, jelaskan padanya bahwa ia tak boleh berkomentar seperti itu. Apalagi mengomentari orang di tempat umum mengenai keadaan fisik bisa membuat orang itu sedih, marah, atau tersinggung.
sumber:a y a h i b u . c o . i d 
Selasa
10 Tips Memanfaatkan Waktu Libur

10 Tips Memanfaatkan Waktu Libur



Pikirkanlah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dan luangkanlah waktu untuk mendapatkan jawabannya. Apa yang paling berarti bagi Anda tentang liburan? Seperti apa "Hari Ucapan Syukur" dan Natal yang luar biasa bagi Anda? Banyak orang berkata bahwa yang membuat hari libur ini hebat adalah waktu untuk menikmati hubungan dengan keluarga dan teman-teman Anda, waktu untuk berfokus kembali dengan hal-hal yang sangat penting, merayakan kelahiran Yesus, dan melakukan kebaikan untuk orang lain dan seterusnya.

Sebaliknya, apa yang membuat liburan Anda berbalik menjadi buruk? Mungkinkah Anda terlalu banyak menghabiskan waktu dengan keluarga dan teman-teman Anda? Kurangnya waktu untuk berfokus pada hal-hal yang benar-benar penting? Membuat jadwal liburan yang terlalu padat? Kebanyakan orang menganggap film "Christmas Vacation" sangat lucu karena film ini sangat mirip dengan keadaan di rumah. Film tersebut bercerita tentang rencana Natal yang gagal. Tokoh dalam film tersebut membangun harapan akan "momen spesial sepanjang tahun" dan mereka menjadi frustrasi ketika apa yang terjadi tidak seperti yang mereka bayangkan.

Untuk menghindari Natal seperti ini dan merasakan liburan yang menyenangkan, ingatlah tip-tip penting berikut ini yang akan membantu Anda menyegarkan pikiran Anda dan seluruh keluarga.

1. Bertanggungjawablah atas harapan, pilihan, dan emosi Anda sendiri. Jika Anda mengharapkan Natal yang bersalju dan ternyata tidak bersalju, janganlah merusak hari libur orang lain dengan kekesalan Anda. Terkadang Anda mendapatkan tekanan dari keluarga untuk melakukan sesuatu yang enggan atau tidak bisa Anda lakukan. Jika Anda memutuskan untuk melakukannya, maka laksanakanlah keputusan Anda dan lakukanlah dengan sikap yang baik.

2. Kerjakanlah dengan "baik" saat Anda membuat rencana, persiapan, beres-beres, dan membuat dekorasi. Tidak ada yang sempurna dan orang lain tidak akan memerhatikannya.

3. Seimbangkan tidur, nutrisi, dan olahraga. Anda perlu menjaga ketiganya.

4. Bersikaplah realistis dalam mengatur jadwal Anda. Belajarlah berkata "tidak" untuk beberapa hal. Berhentilah berusaha membuat semua orang bahagia. Jika Anda dapat membuat puas sebagian besar orang saja, Anda sudah hebat.

5. Jika anak-anak Anda tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, tidak apa-apa. Sebenarnya, sangatlah baik jika Anda dapat mendorong anak-anak Anda untuk memikirkan orang lain di saat-saat seperti ini. Ajaklah mereka membantu tetangga Anda yang sudah tua yang kesepian dengan membawakan makanan. Ajaklah mereka berbelanja di sebuah acara bakti sosial. Kegiatan ini akan menolong mereka bersemangat dengan hari libur mereka bukan berfokus pada "Aku", "Aku", dan "Aku".

6. Jika Anda kedatangan tamu-tamu yang tidak bisa membaca isyarat Anda untuk pergi, tegaslah. Buatlah perencanaan saat Anda tahu sepupu Anda akan bertamu sampai larut dan berbincang-bincang bersama. Buatlah rencana yang mampu membuatnya pulang tepat waktu.

7. Tentang kesedihan. Anda mungkin sedang bersedih selama liburan karena orang yang kita kasihi meninggal. Luangkanlah beberapa waktu untuk membiarkan diri Anda bersedih. Bicarakanlah dengan pasangan/keluarga. Kenanglah orang yang telah meninggal selama liburan.

8. Tentang masalah-masalah lama keluarga. Jangan gunakan hari libur Anda sebagai kesempatan untuk berkonfrontasi mengenai kesalahpahaman yang telah lama terjadi antara Anda dan orang lain. Carilah saat lain yang tepat.

9. Tentang uang. Buatlah anggaran dana untuk pengeluaran hari libur. Jika Anda terlalu banyak mengeluarkan uang pada bulan Desember, Anda akan mengalami "sakit" finansial pada bulan Januari.

10.Setelah semuanya berakhir, janganlah bersedih. Hargailah kenangan yang telah Anda ciptakan dan ambillah segala keindahan dari momen Ucapan Syukur dan Natal. Jangan hanya fokus pada momen klimaks seperti kemeriahan tukar kado, tetapi berfokuslah pada hubungan yang Anda miliki. Ingatlah kehidupan orang-orang yang telah menyentuh Anda dan Anda dapat memberkati orang lain selama hari libur ini. Jika Anda melakukannya, Anda akan sangat menikmati hari libur Anda.

Demikian Sobat remaja yang dapat mind bagikan semoga bermanfaat,  semangat gangbate,  xixixixxx......
sumberdikutip dari patrick ward
Back To Top